Facebook adalah Petunjuk Kebenaran Al-Quran
Minggu, 23 Februari 2014
Jauh jauh sekali hingga ribuan tahun yang lalu sebelum facebook lahir,
Al-Quran sudah memaparkan bahwa salah satu sifat manusia yaitu suka
berkeluh kesah dan pelit. Seperti yang sudah termaktub dalam QS Al-Ma’arij ayat 19-21
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka
mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila
mendapat kebaikan dia jadi kikir."
Asal berpendapat saja nih, bisa jadi motif
diciptakannya facebook adalah untuk membuktikan kebenaran Al-Quran. Ya,
mungkin aja kan? Pendiri facebook itu merasa galau dengan kebenaran
yang disampaikan Al-Quran. Maka dia sengaja mengadakan riset sederhana
untuk membuktikan ayat-ayat Al-Quran dengan menciptakan buku diary yang
bisa digunakan secara masal. Mengapa buku diary? Karena memang
kebanyakan manusia suka berkeluh kesah di buku harian mereka. Maka
facebooklah alat yang dirasa paling efektif untuk bahan penelitiannya
yang merujuk ayat tersebut. Secara umum, sifat manusia yang disebutkan
dalam ayat itu memang sudah transparan alias bukan rahasia umum.
Awalnya, pendiri fb hanya meriset orang-orang di sekitarnya dengan
diam-diam mengintip buku harian mereka, termasuk dia sendiri yang
biasanya berkeluh kesah di buku diary pribadi. Atau paling tidak, dia
juga suka ngeluh sendiri dalam hatinya. Namun riset primitif itu
dirasakan terlalu memakan waktu lama dan kurang kerjaan sekali. Untuk
itu, dengan bantuan kemajuan teknologi, pendiri facebook mencoba membuat
sebuah buku diary yang bisa diisi secara masal. Alih-alih mengerjakan
riset, pendiri facebook bisa menghibur diri dengan mengintip lebih
banyak data keluh kesah manusia dari berbagai macam ras di dunia. Tentu
saja akan lebih banyak lagi informasi-informasi penting lainnya yang
akan diintipnya.
Kembali ke ayat Al-Quran yang diteliti
kebenarannya itu. Hasilnya sungguh sangat mencengangkan. Setelah
facebook resmi diluncurkan, akhirnya masyarakat dunia beramai-ramai
mendaftarkan diri (termasuk saya) menjadi anggota facebook. Entah pelet
apa yang digunakan pendiri facebook itu untuk menarik perhatian
masyarakat dunia agar risetnya berhasil. Dengan facebook masyarakat
dunia berbondong-bondong curhat kepada pendiri facebook dengan bermacam
bahasa. Cukup membuat si pendiri facebook tersenyum.
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka
mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila
mendapat kebaikan dia jadi kikir.'
Ayat ini menjelaskan dengan gamblang fenomena jama’ah "Al-Fisbukiyyah" secara umum. Coba kita liat wirid-wirid kita di facebook.
Kebanyakan isinya keluh kesah. Tema-nya udah mirip sinetron mendayu-dayu sampai bikin air mata bercucuran. Sakit dari mulai bisul, cantengan, jerawat, sampai ayan diupdate di status. Aktifitas mulai dari ngupil sampai ngapel pun detil memenuhi beranda kita. Cuaca juga gak ketinggalan. Dikasih hujan, ngeluh gak bisa kemana-mana. Dikasih panas ngeluh kepanasan. Segala maksiat juga disebarin di muka umum. Masalah duit abis, rezeki seret terus dan terus di suguhkan. Ibadah juga ada beberapa yang dipublikasikan seperti puasa, sedekah, tapi alhamdulillah kita belum menemukan ada orang yang lagi sholat update status 'lagi roka’at dua nih' naudzubillah kalo sampai ada. He he he. Tapi kalo hampir mendekati sih ada, kayak gini nih. " Saatnya 3 roka'at" mungkin maksudnya "saatnya sholat maghrib" de el el deh.
Ayat ini menjelaskan dengan gamblang fenomena jama’ah "Al-Fisbukiyyah" secara umum. Coba kita liat wirid-wirid kita di facebook.
Kebanyakan isinya keluh kesah. Tema-nya udah mirip sinetron mendayu-dayu sampai bikin air mata bercucuran. Sakit dari mulai bisul, cantengan, jerawat, sampai ayan diupdate di status. Aktifitas mulai dari ngupil sampai ngapel pun detil memenuhi beranda kita. Cuaca juga gak ketinggalan. Dikasih hujan, ngeluh gak bisa kemana-mana. Dikasih panas ngeluh kepanasan. Segala maksiat juga disebarin di muka umum. Masalah duit abis, rezeki seret terus dan terus di suguhkan. Ibadah juga ada beberapa yang dipublikasikan seperti puasa, sedekah, tapi alhamdulillah kita belum menemukan ada orang yang lagi sholat update status 'lagi roka’at dua nih' naudzubillah kalo sampai ada. He he he. Tapi kalo hampir mendekati sih ada, kayak gini nih. " Saatnya 3 roka'at" mungkin maksudnya "saatnya sholat maghrib" de el el deh.
Terus di ayat setelahnya dikatakan
'apabila dapat kebaikan maka ia kikir.' Kita rasa betul ayat tersebut.
Coba kita hitung ada beberapa orang yang update status semisal
alhamdulillah dapet rezeki, buat yang mau ditraktir harap tunggu di
depan masjid, atau Yes, akhirnya dapet arisan juga. Kira-kira ada gak status kayak gitu. Giliran dapat rezeki
yang melimpah pada pelit gak mau orang lain pada tau, tapi giliran
ditimpa musibah di share kemana-mana.
Sok jaim. Kita rasa jaim itu perlu, dalam konteks JAIM, Jaga-Iman
berkaitan dengan hal malu, kita tidak mengharamkan update status, akan
tetapi alangkah baiknya update-nya itu yang baik-baik pokoknya, temanya
mengajak kebaikan dari quran, hadits, sahabat, ataupun salafush sholih.
Inget kan, dalam hadits riwayat Bukhori dikatakan Jika kamu tidak malu,
maka berbuatlah sesukamu. Ulama bilang bahwa jika kita udah gak malu
sama Allah dan tidak merasa diawasinya maka tunaikan saja hawa nafsumu
dan lakukan apa yang kau inginkan.
Sungguh, sejatinya kita sudah sering membaca atau
bahkan menghafalkan
surat ini. Namun dikarenakan kurang men-tadabbur-i ayat ini. Sedangkan
pendiri facebook itu justru kembali lupa dengan tujuan risetnya. Ia
lebih memilih keuntungan dari facebook daripada kebenaran yang ia
cari-cari.
Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Aamiin. Yaitu, munculnya facebook memang memberi dampak negatif. Tapi, positifnya juga ada termasuk menambah keimanan kita terhadap kebenaran Al-Quran.
(SUMBER: http://faktadanfiktif.blogspot.com/2014/01/facebook-adalah-petunjuk-kebenaran-al.html)